Rabu, 27 September 2017

Laporan Jamur Pathogen

BAB I
 PENDAHULUAN


1.1.Latar Belakang

Perkembangan penyakit didukung oleh tiga faktor yaitu inang yang rentan, pathogen yang virulen, dan lingkungan yang mendukung. Pathogen mempunyai daya virulensi yang mempu menyebabkan suatu penyakit sebagai ekspresi patogenesitas. Gejala layu dan rontok pada daun serta perkembangan bercak diduga merupakan akibat dari substansi-substansi yang disekresikan pathogen dalam mekanisme penyerangan untuk melumpuhkan inang. Substansi utama yang disekresikan pathogen kedalam tubuh tumbuhan untuk menimbulkan penyakit secara langsung maupun tidak langsung adalah enzim, toksin, zat pengatur tumbuh, dan polisakarida.
Mikroorganisme yang dapat merugikan tanaman dapat mengakibatkan tanaman yang menjadi inang mikroba pengganggu tersebut tumbuh tidak normal, tanaman layu, menguning, kerdil dan sebagainya. Maka tanaman tersebut mengalami gangguan (sakit). Tanaman dikatakan sakit apabila ada perubahan seluruh atau sebagian organ tanaman yang menyebabkan terganggunya kegiatan fisiologis sehari-hari. Secara singkat penyakit tanaman perupakan penyimpangan dari keadaan normal. Sejumlah mikroorganisme (terutama jamur dan bakteri) diketahui merupakan antagonis terhadap jamur penyebab penyakit tanaman.

1.2. Tujuan Praktikum

            Praktikum Isolasi Jamur Pathogen Tanaman bertujuan untuk mengetahui, mengerti, dan memahami cara isolasi jamur pathogen tanaman secara benar. Kemudian dapat menjelaskan cara isolasi jamur pathogen tanaman secara lancar. Selain itu, praktikum ini dilakukan agar praktikan dapat melakukan isolasi jamur pathogen tanaman dengan baik dan benar.



BAB II
 TINJAUAN PUSTAKA


Jamur adalah organisme eukariotik (mempunyai inti sel) tidak mempunyai klorofil, mempunyai spora, struktur somatic atau talus berupa sel tunggal (uniseluler) dan umumnya berupa filament atau benang-benang bercabang (multiseluler), berkembangbiak secara seksual dan aseksual, dinding sel umumnya terdiri dari kitin dan selulosa atau keduanya. Jamur merupakan organisme yang tidak mempunyai klorofil sehingga ia tidak mampu untuk memproduksi makan sendiri karena jamur tidak bisa memanfaatkan karbondioksida sebagai sumber karbonnya. Karbon berasal dari sumber anorganik misalnya glukosa. Oleh karena itu jamur memerlukan senyawa organic baik dari bahan organic mati maupun dari organisme hidup sehingga jamur dikatakan heterotroph. Jamur ini ada yang hidup dan memperoleh makanan dari organisme hidup da nada pula yang memperoleh makanan dari bahan organic mati seperti sisa-sisa hewan atau tumbuhan. Jamur hidup dan memperoleh makanan dari bahan organic mati dinamakan saprofit, sedangkan yang hidup dan memperoleh makanan dari organisme hidup dinamakan parasite. Beberapa spesies dapat menggunakan nitrogen, itulah sebabnya mengapa medium biakan untuk jamur biasanya berupa pepton, suatu produk protein yang terhidrolisis. Secara morfologis jamur dapat ditentukan dengan melihat bentuk strukturnya menggunakan mikroskop, dengan demikian identifikasi dan klasifikasi dapat ditentukan, secara visual jamur dilihat seperti kapas atau benang berwarna/tidak berwarna yang disebabkan karena adanya miselia dan spora. Miselia terbentuk dengan adanya hifa, baik yang bersepta atau tidak bersepta. Jamur terbagi menjadi beberapa familia antara lain Moniliaceae (aspergillus, phenicilium, trichothecium, geotrichum, monilia, sporatrichum, botrytis, dll), dematiaceae (cladosporium, helminthosporium, dll), dan tuberculariaceae (fusarium). (Kusnadi, 2003)

Aspergillus sp adalah suatu jamur yang tersebar luas di alam dan bersifat kosmopolitan. Selain itu, merupakan jamur saprofit sehingga dapat menyebabkan kerusakan di sejumlah bahan makanan dan biji – bijian karena menghasilkan mikotoksin. Aspergillus sp adalah salah satu jenis mikroorganisme yang termasuk jamur, dan termasuk dalam mikroorganisme eukariotik. Dicirikan sebagai hifa bersepta dan bercabang, konidia muncul dari foot cell (misellium yang bengkak dan berdinding tebal) membawa stigma dan akan tumbuh konidia membentuk rantai berwarna coklat, hijau, atau hitam. Aspergillus sp secara mikroskopis mempunyai hifa fertil yang muncul dipermukaan dan hifa vegetatif yang muncul dibawah permukaan. Jamur tumbuh membentuk koloni mold berserabut, smooth, cembung, serta koloni yang kompak berwarna hijau kelabu, hijau coklat, hitam, putih. Warna koloni dipengaruhi oleh warna spora misalnya spora berwarna hijau. Yang semula berwarna putih tidak tampak lagi (Srikandi, F., 1992)

Fusarium  merupakan  jamur yang mempunyai ukuran tubuh yang sangat kecil dan hidupnya bersifat parasitoit pada organism lain serta didukung oleh suhu tanah yang hangat dan kelembaban tanah yang rendah sekali Populasi akan meningkat jika di tempat yang sama ditanam tanaman yang merupakan inangnya serta jamur ini menginfeksi tanaman melalui jaringan meristem pada ujung akar (Pracaya, 2007). Gejala serangan Fusarium  yang mana awalnya tulang-tulang daun sebelah atas menjadi pucat, tangkai daun merunduk dan tanaman menjadi layu. Layu total dapat terjadi antara 2-3 minggu setelah terinfeksi. Tandanya dapat dilihat pada jaringan angkut tanaman yang berubah warna menjadi kuning atau coklat. Penyakit ini dapat bertahan di tanah untuk jangka waktu lama dan bisa berpindah dari satu lahan ke lahan lain melalui mesin-mesin pertanian, seresah daun yang telah terserang, maupun air irigasi. Suhu tanah yang tinggi sangat sesuai untuk perkembangan penyakit ini (Irzayanti, 2008)



BAB III
 PELAKSANAAN PRAKTIKUM



III.1     Waktu Pelaksanaan
Praktikum Isolasi Jamur Patogen Tanaman dilakukan pada Kamis 20 April 2017 di Laboratorium Kesehatan Tanaman Fakultas Pertanian UPN “Veteran “ Jawa Timur.

III.2     Alat dan Bahan

            Alat     : Kaca Pembesar                                  : Bunsen
                        : Mikroskop                                         : Jarum Ose
                        : Cawan Petri                                      : Pisau Scalpel
                        : Tabung Reaksi                                              : Pipet
                        : Gelas Arloji                                       : Gelas Benda
                        : Gelas Penutup                                               : Korek
                        : Isolasi                                                            : Plastik
            Bahan  : Specimen tumbuhan sakit (Kecipir dan Belimbing)
                        : Media PDA
                        : Alkohol 70%
                        : Aquadest Steril

III.3     Cara Kerja
            Penyiapan Media
1.      Menyiapkan seluruh alat, bahan, dan LAF.
2.      Memasukkan seluruh alat dan bahan kedalam LAF, sebelum memasukkan menyemprotnya dengan alcohol 70% termasuk tangan.
3.      Menyalakan Bunsen dengan korek api.
4.      Membuka tutup media PDA yang berada dalam tabung Erlenmeyer.
5.      Membuka pembungkus cawan petri yang telah steril.
6.      Memanaskan secara bersamaan permukaan cawan petri dan juga leher Erlenmeyer.
7.      Menuangkan media PDA pada cawan petri secukupnya (Apabila media PDA memadat, dicairkan dengan cara merebusnya terlebih dahulu).
8.      Menunggu hingga media yang berada pada cawan petri memadat.
9.      Mematikan Bunsen dan menutup LAF.
Menyiapkan specimen tumbuhan yang terserang jamur.
1.      Menyiapkan seluruh alat dan bahan. Tanaman sakit yang diindikasikan terserng jamur adalah kecipir dan belimbing.
2.      Pada masing – masing tanaman dibersihkan dengan cara menyemprot alcohol 70%
3.      Memotong bagian akar dan daun pada masing – masing tanaman menggunakan pisau scalpel (1/2 bagian sakit, ½ bagian sehat)
4.      Meletakkan potongan bagian tanaman pada gelas arloji.
5.      Memasukkan seluruh potongan specimen dalam LAF.
Isolasi
1.      Menyalakan Bunsen kembali yang ada didalam LAF.
2.      Memastikan media PDA dalam cawan petri memadat.
3.      Mengambil jarum ose dan memanaskannya,
4.      Mengambil satu media PDA dan mendekatkannya disekitar nyala api.
5.      Mengambil specimen dengan ose dan meletakkannya pada bagian pinggir (specimen daun kecipir) dan bagian pinggir lainnya untuk specimen akar kecipir.
6.      Menutup cawan petri dan memanaskan permukaannya diatas Bunsen secara merata.
7.      Memberi isolasi pada cawan petri agar terjaga kesterilannya.
8.      Mengulangi hal yang sama pada specimen belimbing.
9.      Memasukkan kedua isolasi pada plastik dan menyimpannya pada tempat yang aman dan bersih.
10.  Menunggu dua hari hingga jamur tumbuh


Pemurnian
1.      Apabila jamur telah tumbuh pada media PDA, maka proses selanjutnya adalah pemurnian. Pemurnian dilakukan Karen pada 1 media terdapat jenis jamur yang berbeda.
2.      Cara pemurnian tidak jauh berbeda dari isolasi jamur.
3.      Menyiapkan media yang baru pada cawan petri sejumlah jamur yang ingin dimurnikan (dua).
4.      Setelah media padat maka mengambil jarum ose dan memanaskannya pada Bunsen.
5.      Membuka isolasi jamur yang tersedia dan mengambil sedikit jamur yang berwarna putih.
6.      Membuka media baru di area Bunsen, kemudian meletakkan sampel jamur berwarna putih di tengan – tengah media.
7.      Menutup cawan petri dan memanaskan permukaannya.
8.      Memberi isolasi cawan petri hingga rapat sampai tidak bercelah.
9.      Melakukan hal yang sama pada jamur berwarna hitam.
10.  Memasukkan kedua hasil pemurnian pada plastik dan menyimpannya di tempat aman serta bersih.
11.  Menunggu selama dua hari hingga jamur berkembangbiak.
12.  Mengamatinya menggunakan kaca pembesar / mikroskop.
13.  Mendokumentasikannya menggunakan kamera / HP.
14.  Mencatat hasilnya.




BAB IV
 HASIL DAN PEMBAHASAN



IV.1 Hasil Pengamatan
No.
Nama Jamur
Gambar
Keterangan
1.
Aspergillus Sp


Secara morfologi jamur Aspergillus Sp yang ditemukan pada daun cipir berwarna hitam. Ciri-ciri daun kecipir yang terserang jamur ini yaitu berwarna hijau kecoklatan dan layu. Apabila diamati pada mikroskop jamur ini kolomnya berkelompok, mempunyai hifa berseptat dan miselium bercabang. Pada ujung hifa muncul sebuah gelembung,  pada gelembung muncul sterigma, muncul konidium berurutan mirip bentuk untaian mutiara.

2.
     

      Fusarium Sp

Secara morfologi jamur Fusarium Sp yang ditemukan pada akar kecipir, daun belimbing, akar belimbing berwarna putih. Ciri-ciri tanaman yang terserang jamur ini perlaha-lahan layu yang dimulai dari akar kemudian menyebar pada bagian atas karena sifat jamur parasit yang mengambil nutrisi tanaman ( tulang daun pucat dan ). Jamur ini membentuk miselium bersekat dan tumbuh dengan cepat.


IV.2 Pembahasan
- Aspergillus Sp
Kingdom         : Myceteae
Divisi               :Amastigomycota
Kelas               :Ascomycetes
Ordo                :Eurotiales
Famili              : Euroticeae
Genus              : Aspergillus
Spesies            : Aspergillus Sp
            Merupakan jamur yang dapat ditemukan hampir dimana saja seperti sapropit pada tumbuh-tumbuhan yang membusuk, tanah debu, organik, makanan, laboratorium, rumah sakit dan lain-lain. Jamur ini membentuk filamen-filamen panjang bercabang, dan dalam media biakan membentuk miselia dan konidiospora. Cara perkembangbiakannya yaitu hifa /  tunas dan menghasilkan konidiofora pembentuk spora. Aspergillus tumbuh pada isolasi spesimen akar kecipir, daun belimbing dan akar belimbing. Ciri khasnya yaitu memiliki sterigma primer dan sterigma sekunder karena phialidesnya bercabang 2 kali. Serangan jamur ini menyebabkan gejala nekrotik pada daun, warna tidak normal, bercak melebar dan memanjang mengikuti arah tulang daun. Apabila terinfeksi berat maka berwarna coklat kekuningan seperti terbakar. Cara pengendaliannya yaitu penanaman tanaman talas penggunaan benih / biji sehat, pencabutan dan pemusnahan tanaman sakit.
-  Fusarium Sp
Kingdom         : Fungi
Divisi               : Ascomycota
Kelas               : Sordariomycetes
Ordo                : Hypocreales
Famili              : Nectriaceae
Genus              : Fusarium
Spesies            : Fusarium Sp
            Jamur Fusarium akan menginfeksi akar tanaman terutama yang terluka. Gejala serangannya yaitu tulang daun yang memucat dan menggulungnya daun yang lebih tua karena merunduknya batang, dan dikendalikan dengan dicabut. Golongan Fusarium dicirikan dengan struktur tubuh berupa miselium bercabang, hialin, dan bersekat (septat) dengan diameter 2-4 µm. Cendawan ini juga memiliki struktur fialid yang berupa monofialid ataupun polifialid dan berbentuk soliter ataupun merupakan bagian dari sistem percabangan yang kompleks.Reproduksi aseksual cendawan ini menggunakan mikrokonidia yang terletak pada konidiospora yang tidak bercabang dan makrokonidia yang terletak pada konidiospora bercabang dan tak bercabang. Makrokonidia dibentuk dari fialid, memiliki struktur halus serta bentuk silindris, dan terdiri dari 2 atau lebih sel yang memiliki dinding sel tebal. Sedangkan mikrokonidia yang dihasilkan umumnya terdiri dari 1-3 sel, berbentuk bulat atau silinder, dan tersusun menjadi rantai atau gumpalan.






BAB V
  KESIMPULAN



Dari Praktikum Isolasi Jamur Patogen Tanaman  dapat disimpulkan bahwa Isolasi adalah proses memindahkan mikroba yang tumbuh di alam untk ditumbuhkan pada media buatan yang dapat berupa NA atau PDA.Jamur merupakan mikroorganisme hidup yang tidak berklorofil sehingga tidak dapat memproduksi makanan sendiri , dan hidup bergantung pada inangnya untuk mendapatkan dan memenuhi kebutuhan nutrisinya.Dari hasil pengamatan kami menemukan 2 jenis jamur pathogen yaitu  Fusarium sp dan  Aspergilus sp.Untuk dapat mengidentifikasi lebih dalam tentang 2 jamur pathogen ini membutuhkan pengamatan yang lebihh lanjut mnggunakan peralatan yang lebih canggih.





                                                                                           




DAFTAR PUSTAKA
                                                                                                                      

Kusnadi, dkk., 2003, Mikrobiologi, UMY Pres: Yogyakarta.
Srikandi, F. 1992. Dasar – Dasar Mikrobiologi. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Pracaya,  2007.  Hama Dan Penyakit Tanaman.  Penebar Swadaya,  Jakarta.
Irzayanti, 2008. Hama Penyakit. http://bleckmen.wordpress.com/category/cacao-theobroma

cacao/. Diakses pada 1 Mei 2017.

Senin, 15 Mei 2017

Rancangan Software Pengelolaan Informasi Pertanahan dan Bencana Alam

PENGELOLAAN INFORMASI PERTANAHAN DAN BENCANA ALAM BERBASIS SISTEM INFORMASI GEEOGRAFIS

HANIF SURYA TARUNA/1525010063/A25
AGROTEKNOLOGI/ FAKULTAS PERTANIAN UPN "VETERAN" JAWA TIMUR



Dalam perkembangan Sistem Informasi Geografis (SIG) tidak terlepas dari perkembangan dari pada komponen dari Sstem Informasi Geografis itu sendiri yaitu :
1.    Software, seiring perkembagan jaman ilmu pengetahuan juga semakin luas salah satu nya dalam bidang Sistem Informasi Geografis adalah munculnya web web dan software pendukung kegiatan Sistem Informasi Geografis yang semakin maju, salah satu contoh konkrit dari perkembangan SIG adalah Google Earth 3d dimana kita dapat melihat suatu tapak daerah dengan wujud 3 dimensi.
2.    Hardware, seiring berkembangnya software dan web web yang berbasis SIG maka Hardware pun dituntut untuk lebih dikembangkan untuk mensuport web atau software yang memiliki kebutuhan kemampuan dan kapasitas hardware yang tinggi.
3.    Pengguna, adalah salah satu komponen terpenting dalam perkembangan SIG didunia karena SIG adalah salah satu bidang yang dirancang atau dibuat manusia dalam mempermudah manusia mengakses informasi tentang geografis suatu tempat di dunia (bumi).

Disini kami  akan membahas tentang rancangan software Pengelolaan Informasi Pertanahan dan Bencana Aam Berbasis Sistem Informasi Geografis. Jadi Software ini adalah software yang akan dirancang untuk memberikan informasi tentang kondisi tanah mulai dari sifat tanah sifat kimia tanah dan juga memberikan informasi tentang bahaya perubahan  gejala-gejala pada alam yang mungkin terjadi pada suatu tempat. Software ini dirancang untuk mempermudah untuk memperoleh informasi keadaaan geografis suatu wilayah terutama informasi tentang kondisi tanah dan kemungkinan perubahan  gejala-gejala alam yang dapat terjadi pada daerah tersebut.
Dalam perancangan software ini memiliki sasaran pengguna dan akan bermanfaat bagi :
1.    Mahasiswa terutama mahasiswa pertanian dan geografi karena software ini karena software ini berisi konten yang sangat berhubungan dengan kodisi geografi suatu daerah dan gejala alam yang terdapat pada daerah tersebut, dan software ini juga memuat konten yang berisi tentang kondisi tanah dan sifat-sifat yang dimiliki tanah yang terdapat pada daerah tersebut yang dapat membantu menentukan pola tanam yang dapat dilaksanakan pada daerah tersebut.
2.    Software ini juga bermanfaat bagi para pecinta alam karena software ini akan memberikan informasi tentang gejala gejala alam yang mungkin terjadi, sehingga para pecinta alam dapat mengantisipasi hal hal yang mungkin terjadi. Dan pada software ini akan terhubung pada google map sehingga dapat menunjukkan arah jalan tujuan para pengguna.
3.    Da software ini akan bermanfaat bagi masyarakat umum karena software ini dapat diakses dengan terlebih dahulu registrasi. Dan aplikasi ini akan menambah wawasan bagi khalayak umum tersebut.

Komponen- komponen data yang dibutuhkan dalam perancangan software Pengelolaan Informasi Pertanahan dan Bencana Alam adalah :
1.    Titik-titik kordinat suatu daerah yang dapat diperoleh dari hasil proses tracking atau kordinat yang didapat dari fitur google map karena pada perancangan software ini akan memanfaatkan fitur-fitur dari Google seperti email google yang akan dijadikan id akun dari software ini, and fitur google yang menjadi fitur yang sangat dibutuhkan adalah google map yang memiliki informasi tentang lokasi geografis pada suatu wilayah.
2.    Kondisi Geografis suatu daerah, untuk mendapat informasi tentang keadaan geografis suatu wilayah, dalam perancangan software ini akan bekerjasama dengan BMKG guna memperoleh informasi geografis untuk dapat mengetahui kemungkinan perubahan gejala-gejala alam yang dapat terjadi pada wilayah atau daerah tersebut.
3.    Informasi tentang pertanahan yang dapat diperoleh dari Badan Pertanahan tentang status tanah yang berisi kan fungsi tanah (bangunan atau lahan produktif) dan bekerjasama dengan para dosen, peneliti atau mahasiswa yang berkecimpung dalam hal penelitian tentang tanah terutama sifat fisik dan kimia tanah.

Dalam penggunaan software ini maka terdapat spesifikasi dari computer user atau pengguna agar dapat mendukung keberlancaran software ini di personal computer user, spesifikasi minimal yang dibutuhkan adalah :
1.    Prosessor Intel core 2 dan yang setaranya
2.    VGA  graphic dan monitor yang dapat support kualitas HD
3.    RAM 3giga dengan hardisk minimal 500gigabyte
4.    Dan salah satu factor dari luar yang dianggap penting adalah kecepatan koneksi untuk memperlancar dalam mengakses informasi yang dibutuhkan.

Berikut adalah rancanga cara penggunaan software Pengelolaan Informasi Pertanahan dan Bencana Alam Berbasis Sistem Informasi Geografis ini adalah ;
1.    Instalasi Software, aplikasi ini dapat diunduh di web-web penyedia software, kemudian, setelah tersimpan membuka paket winrar software dan klik dua kali pada installer software, dan kemudian mengikuti langkah langkah yang diperintahkan.
2.    Pembuatan akun, pembuatan akun artinya user dalam penggunaan software ini harus memiliki Id atau akun yang dapat tertaut dengan email baik yahoo maupun google
3.    Mentautkan email, artinya pengguna harus mengonfirmasi email bahwasanya akun email tertaut dan terdaftar pada software ini.
4.    Melekukan Pencaran disini berarti mencari informasi daerah yang diinginkan denga terlebih dahulu klik pada klom dengan ikon seperti lloupe atau kaca pembesar dan kemudian mengetik nama daerah yang menjadi daerah tujuan.
5.    Memilih tempat yang sesuai dengan keinginan pada map artinya setelah melakukan searching akan muncul map dan kita dapat melihat informasi pada daerah yang kita inginkan sesuai tempat yang kita pilih pada monitor
6.    Mencetak informasi artinya setelah aktivitas selesai data dapat dicetakdiprint dengan tombol CTRL+P dan informasi yang tercetak adalah gambar peta dan informasi tentang tanah dan gejala alam yang terjadi pada wilayah yang terdapat  pada map.  


Dalam penggunaan software ini seorang user juga dapat berperan sebagai sumber data artinya seorang ser dapat menambahkan informasi tentang pertanahan dan gejala Alam yang terdapat pada suatu daerah yang belum terdeteksi oleh software maupun map sehingga informasi pada software ini dapat menjadi lebih lengkap.

Rabu, 08 Maret 2017

Sistem informasi geografis dan perkembangannya di Indonesia

Sistem Informasi Geografis dan Perkembangannya
 di Indonesia
     Sebelum membahas apa itu Sistem Informasi Geografis (SIG) terlebih dahulu kita mengetahui makna tiap kata yang terdapat pada Sistem Informasi Geografis (SIG). Kata pertama adalah system kata kedua adalah Informasi dan kata ketiga Geografi.
      Sistem  berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi untuk mencapai suatu tujuan. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat. Kata "sistem" banyak sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari, dalam forum diskusi maupun dokumen ilmiah. Kata ini digunakan untuk banyak hal, dan pada banyak bidang pula, sehingga maknanya menjadi beragam. Dalam pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan di antara mereka.
     Informasi adalah pesan (ucapan atau ekspresi) atau kumpulan pesan yang terdiri dari order sekuens dari simbol, atau makna yang dapat ditafsirkan dari pesan atau kumpulan pesan. Informasi dapat direkam atau ditransmisikan. Hal ini dapat dicatat sebagai tanda-tanda, atau sebagai sinyal berdasarkan gelombang. Informasi adalah jenis acara yang mempengaruhi suatu negara dari sistem dinamis. Para konsep memiliki banyak arti lain dalam konteks yang berbeda. Informasi bisa di katakan sebagai pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran, pengalaman, atau instruksi.
        Geografi adalah  ilmu yang mempelajari tentang lokasi serta persamaan, dan perbedaan (variasi) keruangan atas fenomena fisik, dan manusia di atas permukaan bumi. Kata geografi berasal dari Bahasa Yunani yaitu gêo ("Bumi"), dan graphein ("tulisan", atau "menjelaskan").
Sistem Informasi Geografis (SIG) atau dalam bahasa Inggris disebut Geographic Information System (GIS) adalah system informasiyang berdasarkan pada data keruangan dan mempresentasikan obyek yang ada di bumi. Dalam SIG sendiri teknologi informasi merupakan perangkat yang membantu dalam menyimpan datas, memproses data, menganalisa data, mengelola data dan menyajikan informasi. SIG merupakan sistem yang terkomputerisasi yang menolong dalam me-maintain data tentang lingkungan dalam bidang geografis (De Bay, 2002). Pada tahun 1989 Aronoff berpendapat bahwa  SIG adalah sekumpulan komponen yang dilakukan secara manual atau berbasis computer yang merupakan prosedur-prosedur yang digunakan untuk keperluan store dan pemanipulasian data bereferensi geografis. Menurut pendapat tersebut dapat dipahami bahwa, isi aktifitas pada bidang SIG merupakan integrasi dari beragam bidang keilmuan yang didasarkan pada peruntukan aktifitas SIG tersebut dilakukan.
        Sistem Informasi Geografis atau SIG ( geographic information system / GIS ) secara sederhana dapat diartikan sebagai sistem manual atau digital (dengan menggunakan komputer sebagai alat pengolahan dan analisis) yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan menghasilkan informasi yang mempunyai rujukan spasial atau geografis (Projo Danoedoro : 1996; 173). Beberapa alasan kenapa SIG banyak dipilih sebagai teknologi informasi spasial yang paling berkembang, adalah :
     Data spasial dan non-spasial dapat digabungkan dan dimanipulasi secara terintegrasi dan simultan,
Kemampuan memunculkan hubungan-hubungan antara berbagai aktivitas menjadi mendasarkan pada pendekatan geografis, Perantara untuk memahami pengetahuan kebumian secara lebih jauh, Manipulasi dan display ilmu pengetahuan kebumian, Pintu memasuki catatan administrasi, Merupakan alat untuk pembuatan kebijakan secara detail.

     Secara Umum fungsi Sistem Informasi Geografis adalah sebagai sebagai berikut :
  1. Melakukan sejumlah operasi/perhitungan dapat dilakukan melalui SIG
  2. Display (layer peta - warna, ukuran, bentuk dan lain-lain),
  3. kompilasi data base non-spasial
  4. Overlay
  5. Buffering (membuat zona buffer (radius objek) pada jarak tertentu di sekitar/sekelilingnya
  6. Memperbaiki/memperbaharui data atau tayangan tabel (SQL)
  7. Memuat hubungan-hubungan keruangan (spatial).

  Membuat peta-peta tematik dan peta arahan yang berguna untuk perencanaan pembangunan wilayah.
     Dalam SIG  terdapat beberapa komponen  geografis yang diamati antara lain
  1. Litosfer yaitu litosfer adalah lapisan Bumi yang paling luar atau biasa disebut dengan kulit Bumi. Pada lapisan ini pada umumnya terjadi dari senyawa kimia yang kaya akan Si02, itulah sebabnya lapisan litosfer sering dinamakan lapisan silikat dan memiliki ketebalan rata-rata 30 km yang terdiri atas dua bagian, yaitu Litosfer atas (merupakan daratan dengan kira-kira 35% atau 1/3 bagian) dan Litosfer bawah (merupakan lautan dengan kira-kira 65% atau 2/3 bagian). 
  2. Hidrosfer adalah lapisan air yang ada di permukaan bumi. Kata hidrosfer berasal dari kata hidros yang berarti air dan sphere yang berarti lapisan. Hidrosfer di permukaan bumi meliputi danau, sungai, laut, lautan, salju atau gletser, air tanah  dan uap air yang terdapat di lapisan udara.
  3. Atmosfer adalah adalah lapisan gas yang melingkupi sebuah planet, termasuk bumi, dari permukaan planet tersebut sampai jauh di luar angkasa. Di Bumi, atmosfer terdapat dari ketinggian 0 km di atas permukaan tanah, sampai dengan sekitar 560 km dari atas permukaan Bumi.
  4. Biosfer adalah bagian luar dari planet Bumi, mencakup udara, daratan, dan air, yang memungkinkan kehidupan dan proses biotik berlangsung.
  5. Sosial Budaya





      Dan dalam pelaksanaan SIG / GIS dibutuhkan komponen-komponen berikut antara lain,
  • Hardware ( perangkat keras) adalah bagian fisik komputeryang membantu mempermudah kerja dalam pelaksanaan Sistem Informasi Geografis
  • Software (perangkat lunak) software adalah sebuah aplikasi yang berfungsi menginstruksikan kerja hardwaresuatu system computer. Perangkat lunak yang mempunyai kemampuan untuk mendukung  SIG banyak sekali, dapat disebutkan misalnya : MapInfo, ArcInfo, ArcView, ArcCAD, ArcGIS, ArcMap, Ilwis, Erdas, Immager, ER Mapper, ENVI, R2V, Surfer, Idrisi, SPAN, River Tools AutoCAD dan lain-lain.  Perangkat lunak-perangkat lunak tersebut ada dikenali sebagai software khusus yang dikembangkan untuk SIG atau sebagai software pendukung.
  • Data adalah kumpulan catatan dari fakta dan bentuk jamak dari datum
  • Methode adalah cara yang digunakan untuk memperoleh informasi secara detail dan benar
  • People orang yang menjalankan system informasi/server dan pengguna informasi


Perkembangan SIG di indonesia berjalan tidak terlalu cepat, diawali terlebih dahulu dengan perkembangan pengindaraan jauh. Lembaga yang terlibat sejak awal dalam pengembangan pengindaraan jauh seperti LAPAN ( lembaga antariksa penerbangan nasional) dan BAKOSURTANAL ( Badan Survie dan pemetaan nasional) peranya sangat besar dalam mempercepat perkembangan SIG di indonesia. LAPAN adalah lembaga pemerintah indonesia non-deoartemen yang menyediakan data digital khususnya untuk citra pengidaraan jauh dengan satlit. Lembaga ini mempunyai stasiun bumi untuk merekam data pengideraan jauh seperti : citra SPOT, MMS- Lansat dan TM- Lansat. Data citra dari kelembagaan ini dapat di pesan baik dalam bentuk digital maupun dalam bentuk cetak. Sedangkan BAKOSURTANAL berperanan mengkoordinasikan pemetaan dasar dan penyedia data digital berbentuk peta- peta dasar seluruh indonesia. Pada lembaga ini juga tersedia layanan pembelian citra foto udara baik berupa data analog maupun data gital, dan juga penyedia data yang bnersifat grafis.lembaga lain yang juga berperan mendorong perkembangan SIG dan pengindaran jauh di indonesia adalah BPPT (Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi). Di perguruaan tinggi, perkembangan pengindaraan jauh dan SIG awalnya sudah dimulai di UGM, ITB, UI pertengahan 1980-an. Kemudian menyusul beberapa perguruan tinggi yang lain seperti universitas Patimura, ITS, Universitas Bengkulu, UPN, UNDIP, UNHAS, UNPAK, dll.
Di indonesia perkembangan pemakaian SIG dan indraja mulai semarak sekitar awal tahun 1990-an , dimana kebanyakan intansi pemerintah sudah mulai memamfaatkan SIG sebagai sarana untuk pengelolaan data spasial. Dalam hal ini sejak 1990-an hinngga 1996 terdappat 26 proyek besar di indonesia yang menggunakan sarana SIG dan pengindaraan jauh untuk mejalankan aktivitasnya antara lain : land use planning and mapping ( Lupam dan BPN- GTZ), 1 da 2 land resources evaluation and planning (LREP), masing- masing di 8 provinsi di sumatra dan 18 provinsi di luar sumatra, Remote Sensing Technology For Natural Resources Management (BPPT_ ADB) pengembangan SIG untuk mendukung kegiatan POLRI, BPPT-DISINFOLAHTA PORLI, dan pengembangan GIS di 42 kabupaten peserta MREP. Saat ini intansi pemerintah yag sudah memakai SIG antara ;lain: Departemen Kehutanan, Departemen Pertaniaan ( Misalnya: pusat penelitian tanah dan agroklimat), Departement Pertambangan Energi Geologi, PT Telkom , Pertamina, PT Timah, dll). Mentri Negara Lingkungan Hidup, BAPEDAL, departemen Dalam Negeri (BAPPEDA), BPN,Biro Pusat Statistik (BPS), Departemen Transmigrasi Dan Pemukiman Perambahan Hutan,Departemen Pertahanan Dan Keamanan ( Direktorat Toografi dan berbagai instansi lain yang berkaitan), PU,Departemen Keuangan (Ditjen Pajak Dan Bangunan),Departemen Tenaga Kerja, Dan Departemen Kesehatan, Walaupun sudah banyak instansi pemerintah yang memakai teknologi ini sebagai sarana kerjanya, tetapi tingkat pemamfaatanya masih bervariasii, dari yang masih dalam taraf coba-coba hingga yang sudah mantap. Sebagi contoh, Direktorat Pajak Bumi Dan Bangunan, baru menggunakan sarana SIG untuk menunjukkan posisi relatif suatu objek pajak, sedangkan Penetuan Nilai Jual Pajak (NJOP) masih menggunakan prosedur manual (sidik,1996). Saat ini intansi tersebut sedang mengembangkan Sistem Informasi Indikasi Geografis SIIG) sebagi penunjang Sistem Menejemen Imformasi Objek Pajak (SISMIOP). Bagaimana pun juga untuk membuat peran SIG yang besar masih mebuituhkan dukungan kuat dari intasnsi pembuat peta skala besar seperti BPN. Contoh lain adalah BPS, yang sudah mempunyai data spasial tentang administrasi di seluruh indonesia (hingga desa), tetapi data tessebut masih bersumber dari sketsa. Data spasial ini banyak dimamfaatkan untuk penyajian potensi desa atau keadaan desa tetinggal di indoesia. (Pramono, 1996). Departemen Tenaga Kerja juga yang sedang mengembangkan suatu sistem informasi manejemen untuk mengetahui pasar tenaga kerja, yang menggunakan teknologi SIG , tetapi masih dalam taraf uji coba untuk berbagai tujuan ketenaga – kerjaan (Scimidt, 1997). Dalam beberapa hal perkembangan di intansi teknis juga tidak meningkat jauh dan umunya SIG hanya di mamdfaatkan sebagi pembuat produk akhir seperti cetak, belum ke analisa rutin (Tyrie,1999).


Daftar Pustaka :
id.wikipedia.org/wiki/sistem,
id.wikipedia.org/wiki/informasi
id.wikipedia.org/wiki/geografis
Aronoff, S.. 1989. Geographic Information Systems: A Management Perspective. Canadan, Ottawa : WDL Publication